Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2008

Extraordinary

I was a bay tree
Quiet and unseen
I lived in stories but inside I kept a mystery
I was a starling
Nobody’s darling
Flying in perfect circles just for company

And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be extraordinary

A midnight airplane
A window blowing
I know I am another sparkle in the sky
I shine on copper
Still undiscovered
But you might see me in the corner of your eye

And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be extraordinary

Waking up to wake up someday
I am my own parade
Stopping off at a sidewalk cafe
Wind is playing in the trees
Kick up confetti leaves
Seems as if it’s all to say

And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be extraordinary

And now I’m ready
And now I’m ready
And now I’m ready to be extraordinary
ps: thx to darmawan for this song…. 🙂 Yes Wan, we will gonna be an extraordinary person …

Advertisements

Read Full Post »

Dan Kau Pergi

Aku tak menghabiskan malam ku saat itu
kau pun beranjak dari lelap mu
membawa kisah yang tak habis kau ceritakan
tinggalkan aku dalam rindu dan cintaku
ruang yang kosong di hati ku
tak akan ku isi dengan apa pun yang kau tinggalkan,juga kenangan mu
karena hanya harapan lah yang ada
agar kau pulang malam ini
tapi ku lihat hujan tak juga berhenti membasahi bumi
dan kau pun pergi bersama sisa cerita yang tak kau ceritakan padaku malam itu

Read Full Post »

SALAH

tetes air mata terurai
menanyakan banyak hal
hal yang tidak ku mengerti

mengapa semua ini terjadi pada ku
mengapa kau bilang sayang
mengapa kau memberi harapan
mengapa kau bahagia bersamaku

sekarang aku bukan siapa2 kah
kau bilang dia yang lebih baik
kenapa tidak dari dulu
kenapa harus sekarang, setelah kau menciptakan perasaan

mengapa bibirmu hanya diam
mengapa kau tak menjawab
mengapa hati ini kau sakiti
kau sakiti hingga aku merintih

mengapa tak kau bunuh saja cinta ini
kau bunuh dari dulu
agar aku tak merasakan cinta ini

Read Full Post »

Sirnakah Cinta Kita ?

bulan menatapku menyalahkanku

cahayanya seperti matamu

ragu untuk berpendar

aku memang tak seterang matahari

tak sehebat topan

yang terbang melintasi lautan

tapi apakah aku juga tak berhak

membalut luka cinta kita?

dengarlah…

tataplah aku…

tak satupun ingin tertutup kabut

menjalaninya dalam kepekatan

lalu…

apakah harus berlalu dalam diam?

aku hanya ingin menyapa cinta

pada bayangan yang semakin maya

sungguh…

aku tak ingin kehilangan mentari

di telan Kelam, badai…

ah… sirnakah cinta kita?

Read Full Post »

Saya sering bertanya-tanya ketika ada orang yang kekeh memegang prinsip “Jodoh di tangan Tuhan”, “Kalau udah jodoh gak akan kemana”, de el el deh demi sebuah kepasrahan dalam mendapatkan pasangan hidup.

Yang saya tahu Alkitab gak pernah menyebutkan apapun itu tentang jodoh di tangan Tuhan …. or apakah karena saya bukan pakar Alkitab jadinya gak tahu kalau ada ayat2 tertentu yang jika ditafsirkan berarti “jodoh memang di tangan Tuhan”? Maap kalau sampai sekarang saya belum nemu.

Yang saya tahu Alkitab memaparkan kepada kita kriteria-kriteria dalam mencari isteri or suami. Seiman, sepadan, menghormati, mengasihi, de el el deh. Tuhan memang menciptakan manusia untuk berpasangan dengan yang lain, tetapi apakah itu bisa jadi dasar prinsip jodoh di tangan Tuhan? Saya setuju dengan crucifianode, Tuhan memberi kebebasan kepada kita untuk mencari pasangan hidup, tetapi Tuhan juga tidak membiarkan kita berkelana tanpa arah dalam pencarian itu, Dia memberikan tuntunan dalam mencari pasangan hidup dalam firman-Nya.

Yang perlu kita tanyakan adalah, apakah memang si dia sudah sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan firman-Nya?

Bagi saya masa pacaran amat penting, masa di mana kita saling mengenal, saling mendoakan, dan saling melempar tanya apakah aku sanggup dan dapat menjalani kehidupanku 50 tahun or lebih mendatang dengan orang ini? Apakah aku dapat mengimbanginya? Apakah aku “cocok” dengannya? de el el dehh …..

So, tidak bisa pasrah ….. menentukan or mencari pasangan hidup harus penuh dengan pergumulan, perjuangan, usaha, dsb. Tuhan memberi kebebasan kepada kita untuk memilih, tetapi Dia menuntun kita agar dapat memilih sesuai dengan firman-Nya.

Read Full Post »

Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 2 Samuel 12:20

Saya mau membagikan renungan saya dengan Anda pada hari ini. Ada yang dapat kita pelajari disini mengenai bagaimana Raja Daud merespon ketika keadaan berjalan tidak sesuai keinginannya. Ketika anak dari Raja Daud sakit keras, dia berpuasa dan berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anaknya. Dia bahkan tengkurap berdoa sepanjang malam. Penatua-penatua di rumahnya berdiri disampingnya dan berusaha untuk membujuk dia tetapi dia tidak mau dan menolak untuk makan (ops, seperti kita ya). Dengan kata lain dia sudah sangat putus asa dengan keadaan anaknya. Dia berharap agar keadaan berubah sesuai dengan keinginnannya yaitu agar anaknya dapat sembuh.

Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia akan mencelakakan dirinya sendiri!” Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. Baca 2 Samuel 12:15-20.

Saya percaya bahwa pelayan-pelayan raja Daud terheran-heran melihat reaksinya. Ketika anaknya sakit, raja Daud berpuasa dan dia berada pada titik yang terendah di dalam hidupnya. Tetapi Daud bereaksi dengan sangat berbeda setelah anaknya meninggal. Alkitab berkata, “Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.  (2 Samuel 12:20)

Saya melihat bahwa Raja Daud telah merespon dengan iman meskipun dia berada pada titik yang terendah di dalam hidupnya. Dia bisa saja mempertanyakan dan menyalahkan Tuhan akan kematian anaknya tetapi dia tidak bereaksi seperti itu. Dia bangkit dengan iman dari keadaannya dan dia menolak untuk berada pada kondisi itu untuk jangka waktu yang lama. Pasti, dia berduka untuk anaknya, tetapi dia juga memiliki keyakinan di hatinya bahwa Allah mengetahui yang terbaik. Saya yakin ketika dia bangkit, dia berada pada titik terendah dalam hidupnya, sedih dan putus asa tetapi dia membiarkan hal itu berlalu dan memilih untuk keluar dari situasi itu. Bukan hanya itu dia juga memastikan bahwa hal pertama yang dilakukannya adalah untuk pergi ke bait Allah dan menyembah Tuhan.

Ini adalah pelajaran yang sangat berharga dari seorang hamba Tuhan yang luar biasa! Dia berserah pada kehendak Tuhan – meskipun itu berarti kematian anaknya. Saya kagum akan betapa cepatnya raja Daud bangkit dan menata kehidupannya kembali. Perhatikan, pertama yang dilakukannya adalah pergi ke Bait Allah dan menyembah Tuhan.

Saya juga telah mengalami perjalanan yang berat beberapa tahun terakhir ini dan saya mendapatkan saya berkeluh kesah dan berduka dalam menghadapi beberapa hal. Saya tidak memiliki – keyakinan Daud dan kepercayaannya kepada Allah bahwa Allah mengetahui yang terbaik! Dia TAHU apa yang sedang terjadi di dalam kehidupan kita. Di kemudian hari, apabila saya mengalami masalah dan kesusahan, ini yang akan saya lakukan… Bangkit dan Menyembah Tuhan!

Di dalam hidup kita ada saat bagi kita untuk berduka tetapi ada saat untuk kita menghapus air mata dan bangkit kembali. Tidak ada salahnya untuk berduka. Saya tahu sakitnya kehilangan seseorang di dalam kehidupan kita.

Betapa sakitnya pada saat saya kehilangan ibu saya dan beberapa hal yang lain dan kehilangan orang-orang yang saya kasihi. Tetapi dengan kasih karunia Tuhan, saya belajar untuk maju meskipun hati saya sakit.

Saudara sekalian, apapun yang telah engkau alami dan yang sedang kau alami di dalam kehidupan saudara, jangan membiarkan diri saudara terlalu lama pada keadaaan itu.  Letakkan kepercayaan saudara pada Tuhan dan melangkahlah di dalam iman. Dia menginginkan engkau bangkit dan datang kepada-Nya. Hapuskan air mata saudara dan melangkah majulah. Usahakan untuk melihat sesuatu yang tidak kelihatan yang telah Tuhan rencanakan hanya untuk saudara! Engkau akan terkagum-kagum!

By. Elizabeth Hor

Read Full Post »