Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Red prints of stories’ Category

Hari ini membaca berita seorang wanita Afganistan yang tewas dibunuh oleh suami dan mertuanya karena untuk ke tiga kalinya kembali melahirkan anak perempuan. Kejahatan dan penyiksaan kepada para wanita Afganistan bukanlah hal yang baru sebenarnya, namun kita orang Indonesia tidak mau menerima kenyataan ini .. karena takut agama tertentu akan dihujat-hujat oleh karena kejadian ini.

http://dunia.vivanews.com/news/read/284833-kisah-tragis-tiga-wanita-afganistan

Tetapi sebagai seorang wanita yang bebas, tanpa bermaksud menyinggung agama tertentu .. disini aku hendak menyuarakan jeritan hati ketika membaca artikel penyiksaan wanita yang kerap terjadi di Afganistan.

Pertama kali aku mengetahui tentang penyiksaan yang kerap terjadi kepada wanita di Timur Tengah adalah di sekitar tahun 2007. Aku membaca sebuah buku yang menceritakan perjuangan hidup seorang wanita Arab yang selamat setelah dibakar hidup-hidup oleh ipar dan orang tua kandungnya sendiri. Saat itu aku menangis tak henti-hentinya setelah membaca buku tersebut. (Aku lupa judul bukunya).

Tahun 2010, di National Geographic aku kembali dikejutkan dengan berita seorang wanita bernama Aisah yang dipotong hidung dan telinganya oleh suaminya sendiri. Wanita ini kebetulan berada di bawah rezim Taliban.


Sumber : http://nationalgeographic.co.id/photography/235/perempuan-afganistan

Hanya bisa berteriak … ini gila. Rasanya ingin berlari ke Afganistan, dan memeluk para wanita yang menjerit ingin lepas dari penyiksaan.

(more…)

Read Full Post »

Di sebuah kota kecil, hiduplah dua orang pemuda. Mereka adalah pemuda yang tampan, populer karena mereka menarik. Tetapi kepopuleran ini membuat perilaku mereka menjadi keliru dan seringkali tidak menghormati orang lain, padahal mereka berasal dari keluarga yang cukup terhormat.

Belakangan menjadi di kota itu seringkali terjadi pencurian domba yang menjadi matapencaharian penduduk setempat. Ini adalah kejahatan yang cukup besar pada saat itu.

Dan ternyata setelah berkali-kali pencurian terjadi, sepandai-pandainya tupai melompat. Diketahuilah bahwa pemuda-pemuda itulah pelakunya.

Karena mereka berasal dari keluarga terhormat, mereka tidak dipenjara. Namun dengan malu yang amat sangat, para orang tua kedua pemuda itu segera mengusir mereka dari rumah masing-masing. Namun tetap masyarakat berunding untuk menentukan hukuman apa yang paling cocok bagi mereka.

Akhirnya diputuskan untuk memberi tatoo di jidat mereka dengan tulisan “ST”, singkatan dari “Sheep Thief” (pencuri domba). Tatoo ini bersifat permanen, akan kelihatan di dahi mereka seumur hidup.

Salah seorang diantara pemuda itu cukup malu dengan tatoo tersebut, sehingga ia melarikan diri hingga tak terdengar kabar beritanya lagi. Yang seorang lagi, dengan penyesalan mendalam, bertekad untuk memperbaiki hubungan dengan masyarakat.

Ia memilih untuk tetap tinggal di kota dan mulai berbuat baik, terutama kepada warga yang pernah ia rugikan sebelumnya. Beberapa kali perbuatan baiknya ini malah menimbulkan kecurigaan dari masyarakat setempat, tetapi pemuda itu tetap setia berbuat baik tanpa mempedulikan apa kata warga.

Setiap kali ada yang sakit, dia datang untuk merawat si sakit, membuatkannya bubur hangat dan menghibur dengan berbagai cerita-cerita lucu.

Setiap ada kesibukan dan perayaan, dia selalu membantu dengan sukarela.

Dia tidak pernah memperhatikan apakah yang dibantunya kaya atau miskin. Kadang ia menerima tanda ucapan terima kasih, entah makanan maupun uang, tetapi lebih sering ia tidak pernah menerima apapun atas segala bantuannya, dan ia memang tidak pernah memperdulikan hal itu.

Beberapa puluh tahun kemudian, datanglah beberapa orang turis ke kota itu. Karena kota itu terkenal dengan udaranya yang sejuk dan kehidupan pedesaan yang masih alami.

Turis-turis itu singgah pada sebuah toko buah di pinggir jalan, dan melihat seorang lelaki tua, dengan tatoo “ST” di jidatnya, sedang duduk di kursi goyang. Dimana mata teduh orang tua itu tertuju pada ribuan domba di ladang samping rumahnya yang cukup megah di desa itu.

Merela memperhatikan bagaimana orang-orang yang lewat di depan rumah itu selalu menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan si orang tua itu, sambil menunjukkan sikap yang sangat hormat.

Mereka juga melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di halaman rumah yang tidak memiliki pagar itu. Sesekali anak-anak itu menghentikan permainan mereka dan memeluk mesra orang tua itu.

Karena penasaran, bertanyalah para turis itu pada pemilik toko, “Apa arti huruf ST yang tertulis di jidat orang tua itu ?”

Jawab pemilik toko buah, “Saya tidak tahu. Kejadiannya sudah lama sekali…”.

Namun, setelah terdiam sejenak untuk merenung, pemilik toko tersebut melanjutkan, “… mmm, menurut saya tulisan itu singkatan dari kata ‘Santo‘. ”

(by. Willane Ackerman)

Awalnya cerita ini berjudul “Menebus Kesalahan”, namun saya ubah menjadi jangan menyerah. Menurut saya tidak ada yang bisa menebus kesalahan kita, bahkan perbuatan baik sekalipun. Namun cerita ini mengajarkan saya untuk jangan ragu berjalan ke depan, tetap setia berbuat yang terbaik untuk Tuhan. Karena dia bisa mengubah yang merah menjadi putih seperti salju. Tuhan memberkati.

Read Full Post »

Girl: Slow down, I’m scared.
Guy: No, this is fun.
Girl: No it’s not. Please it’s 2 scary!
Guy : Then tell me you love me.
Girl: Fine, I love you. Slow down!
Guy: Now give me a BIG hug.
Girl : *hugs him*
Guy: Can you take my helmet off and
put it on yourself? It’s bugging me.
Girl:Alright, now slow down
Guy: I love you babe
Girl: I love you too, please just slow
down now! Please!

(in the paper the next day):

A motorcycle had crashed into a building because of a brake failure.
Two people were on it, but only 1 had survived.
The truth was that halfway down the road, the guy realized that his brakes broke, but he didn’t want to let
the girl know. Instead, he had her say she loved him and felt her hug one last time, then he had her wear his helmet, so that she would live even though it meant that he would die.

Read Full Post »

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal: – Pertama :Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu, – Kedua: Jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Children_LemonadeWaktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: “Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih”. “Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak”.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama.Jawab anak sulung: “Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut”. “Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.” “Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama”.

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita .. pilihan ada di tangan anda. ‘Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa.”

Have a positive day!

Read Full Post »

“A son and his father were walking on the mountains.
Suddenly, his son falls, hurts himself and screams: “AAAhhhhhhhhhhh!!!”
To his surprise, he hears the voice repeating, somewhere in the
mountain: “AAAhhhhhhhhhhh!!!”

Curious, he yells: “Who are you?”
He receives the answer: “Who are you?”

And then he screams to the mountain: “I admire you!”
The voice answers: “I admire you!”

Angered at the response, he screams: “Coward!”
He receives the answer: “Coward!”

He looks to his father and asks: “What’s going on?”
The father smiles and says: “My son, pay attention.”

Again the man screams: “You are a champion!”
The voice answers: “You are a champion!”

The boy is surprised, but does not understand.
Then the father explains: “People call this ECHO, but really this is
LIFE.
It gives you back everything you say or do.
Our life is simply a reflection of our actions.

If you want more love in the world, create more love in your heart.
If you want more competence in your team, improve your competence.

This relationship applies to everything, in all aspects of life;
Life will give you back everything you have given to it.”

YOUR LIFE IS NOT A COINCIDENCE. IT’S A REFLECTION OF YOU!”

Read Full Post »

Lingkupiku dengan sayap-Mu

我,在
Pau hu ce wo, cai ni che phang sia

Naungiku dengan kuasa-Mu
我,在
Yin pi ce wo, cai ni ta neng shou cung

Di saat badai bergelora

Tang ta hai sin chi khuang feng ta lang

Ku akan terbang bersamaMu

Wo yi ni can che kau khung fei siang

Bapa Kau Raja atas s’mesta

Thien fu ni she yi cou te cin wang

Ku tenang s’bab Kau Allahku

Wo sin phing an ni she wo cu

Read Full Post »

“Ayo, cerita Kek!” kataku dengan manja waktu Kakek duduk di kursi kesayangannya.
Ia merengkuhku dengan tangan tukang kayunya, menaruhku di atas pangkuannya, dan walau telah mendengarnya berulang kali, ia menceritakannya lagi.

“Ayo kita jalan-jalan Kek!” pintaku dengan sangat, sambil menyelipkan tanganku ke tangannya.
Ia menggenggamkan tangannya yang kasar ke tanganku, dan walaupun kami menempuh jalan yang kemarin, kami tetap pergi ke taman.

“Lihat aku, Kek!” kataku dengan gembira waktu aku menari mengitarinya.
Ia menghentikan kesibukannya, dan walaupun telah sering melihatku menari, ia bertepuk tangan dan bersiul mengiringi.

“Aku harus bagaimana, Kek?” tanyaku dengan serius sambil bersimpuh dikakinya.
Ia menatapku dengan seksama, dan walau telah sering menasehatiku, ia tetap membagikan kebijaksanaannya padaku.

“Katakan sekali lagi, Kek!” kataku penuh harap, sambil menatap matanya yang meredup.
Ia menghimpun seluruh kekuatannya yang masih ada, dan walaupun telah mendengarnya berulang kali, ia menjawab, “Kakek sayang padamu, Nak.”

“Ingat aku terus, Kek!” kataku di sela isak tangis, sambil berdiri di samping tempat tidurnya.
Tangannya yang renta meraih tanganku, menggenggamnya, dan meski belum pernah terjadi, kami tahu ini PERPISAHAN….

(Darlene Harrison)

Read Full Post »

Older Posts »